Berita

AWAS BAHAYA JAPANESE ENCEPHALITIS!!!!!!!!!!!

Japanese Encephalitis adalah penyakit radang otak yang disebabkan oleh virus JE. Penyakit ini merupakan penyebab penyakit radang otak. Penyakit ini sering terjadi  di sebagian besar Asia dan sebagian Pasifik Barat, termasuk di Indonesia. Sejarahnya, penyakit ini awalnya ditemukan di Jepang pada tahun 1871 dengan sebutan “summer encephalitis”. Virus ini bersumber dari binatang yang ditularkan melalui nyamuk culex tritaeniorhynchus yang terinfeksi. Manusia dapat terinfeksi virus JE melalui vektor penyebar virus JE. Jenis nyamuk ini biasa ditemukan di sekitar rumah antara lain area persawahan, kolam atau selokan (daerah yang selalu digenangi air). Beberapa binatang yang menjadi reservoar dari penyakit ini adalah babi, kuda, dan beberapa spesies burung.

 

Nyamuk Culex sifatnya antrosoofilik yang tidak hanya menghisap darah binatang tapi juga darah manusia, karena itulah melalui gigitan nyamuk dapat terjadi penularan JE dari hewan kepada manusia. Namun, manusia merupakan dead-end host untuk JE, artinya manusia tidak menjadi sumber penyebaran virus JE.

 

Nyamuk ini hanya memerlukan waktu 7-10 hari untuk berubah dari telur menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk culex betina akan memilih tempat-tempat berair seperti tong, kolam hias, genangan air, anak sungai, parit, hingga daerah rawa. Sekali bertelur, nyamuk culex betina dapat menghasilkan 100 hingga 300 butir telur. Nyamuk ini lebih aktif pada malam hari di area persawahan dan irigasi. Kasus penyakit ini tercatat lebih sering terjadi saat musim hujan. Hal ini disebabkan beberapa faktor sebagai berikut yaitu bertambahnya jumlah nyamuk culex selama musim hujan, tidak adanya antibodi spesifik JE yang didapat secara alamiah atau via imunisasi, tinggal di daerah endemik JE dan perilaku kurang menjaga tubuh sehingga mudah tergigit nyamuk culex.

Gejala Ensefalitis biasanya muncul antara 4-14 hari setelah gigitan nyamuk (masa inkubasi) dengan gejala utama berupa demam tinggi yang mendadak, perubahan status mental, gejala gastrointestinal, sakit kepala, disertai perubahan gradual gangguan bicara, berjalan, adanya gerakan involuntir ekstremitas ataupun disfungsi motorik lainnya. Pada anak, gejala awal biasanya berupa demam, iritabilitas, muntah, diare, dan kejang. Kejadian kejang terjadi pada 75% kasus anak. Sedangkan pada penderita dewasa, keluhan yang paling sering muncul adalah sakit kepala dan gejala peningkatan tekanan intrakranial.

JE bisa menyebabkan kematian, angka kematian akibat JE berkisar antara  5-30%. Angka kematian ini lebih tinggi pada anak, terutama anak berusia kurang dari 10 tahun. Bilapun bertahan hidup, biasanya penderita seringkali mengalami gejala sisa (sekuele), antara lain gangguan sistem motorik (motorik halus, kelumpuhan, gerakan abnormal); gangguan perilaku (agresif, emosi tak terkontrol, gangguan perhatian, depresi); atau gangguan intelektual (retardasi); atau gangguan fungsi neurologi lain (gangguan ingatan/memori, epilepsi, kebutaan).

Sampai saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan penyakit ini, hanya dapat mengurangi gejala (mencegah perburukan kasus). Oleh karena itu, upaya pencegahan sangat penting. JE dapat dicegah dengan pemberian imunisasi dan menghindari gigitan nyamuk (vektor penular JE). Adapun intervensi yang paling utama dalam pencegahan dan pengendalian JE adalah pengendalian vektor baik secara kimiawi maupun non kimiawi, menjaga kebersihan lingkungan permukiman dan peternakan bebas dari habitat perkembangbiakan nyamuk penular JE, penguatan surveilans, dan imunisasi JE pada manusia di samping vaksinasi hewan (babi, kuda dan unggas). Imunisasi merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah JE pada manusia.

Sumber :

https://dinkes.jogjaprov.go.id/berita/detail/surveilans-je-japanese-encephalitis-nyamuk-vektor-arbovirosis-pencegahan-pengendalian-penyakit-diy-virus-je-culex-mengenal-penyakit-japanese-encephalitis

https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/japanese-encephalitis

 

 

Berita Lainnya