Admin
28-07-2025
Japanese Encephalitis adalah penyakit radang otak
yang disebabkan oleh virus JE. Penyakit ini merupakan penyebab penyakit
radang otak. Penyakit ini sering terjadi di
sebagian besar Asia dan sebagian Pasifik Barat, termasuk di Indonesia.
Sejarahnya, penyakit ini awalnya ditemukan di Jepang pada tahun 1871 dengan
sebutan “summer encephalitis”.
Virus ini
bersumber dari binatang yang ditularkan melalui nyamuk culex tritaeniorhynchus yang
terinfeksi. Manusia dapat terinfeksi virus JE melalui vektor penyebar
virus JE. Jenis
nyamuk ini biasa ditemukan di sekitar rumah antara lain area persawahan, kolam
atau selokan (daerah yang selalu digenangi air). Beberapa
binatang yang menjadi reservoar dari penyakit ini adalah babi, kuda, dan beberapa spesies burung.
Nyamuk Culex sifatnya
antrosoofilik yang tidak hanya menghisap darah binatang tapi juga darah
manusia, karena itulah melalui gigitan nyamuk dapat terjadi penularan JE dari
hewan kepada manusia. Namun, manusia merupakan dead-end host untuk JE,
artinya manusia tidak menjadi sumber penyebaran virus JE.
Nyamuk ini
hanya memerlukan waktu 7-10 hari untuk berubah dari telur menjadi nyamuk
dewasa. Nyamuk culex betina akan memilih tempat-tempat berair seperti tong,
kolam hias, genangan air, anak sungai, parit, hingga daerah rawa. Sekali
bertelur, nyamuk culex betina dapat menghasilkan 100 hingga 300 butir telur. Nyamuk
ini lebih aktif pada malam hari di area persawahan dan irigasi. Kasus penyakit
ini tercatat lebih sering terjadi saat musim hujan. Hal ini disebabkan beberapa
faktor sebagai berikut yaitu bertambahnya
jumlah nyamuk culex selama musim hujan, tidak
adanya antibodi spesifik JE yang didapat secara alamiah atau via imunisasi, tinggal di daerah endemik JE dan perilaku
kurang menjaga tubuh sehingga mudah tergigit
nyamuk culex.
Gejala
Ensefalitis biasanya muncul antara 4-14 hari setelah gigitan nyamuk (masa
inkubasi) dengan gejala utama berupa demam tinggi yang mendadak, perubahan
status mental, gejala gastrointestinal, sakit kepala, disertai perubahan
gradual gangguan bicara, berjalan, adanya gerakan involuntir ekstremitas
ataupun disfungsi motorik lainnya. Pada anak, gejala awal biasanya berupa
demam, iritabilitas, muntah, diare, dan kejang. Kejadian kejang terjadi pada
75% kasus anak. Sedangkan pada penderita dewasa, keluhan yang paling sering
muncul adalah sakit kepala dan gejala peningkatan tekanan intrakranial.
JE bisa menyebabkan kematian,
angka kematian akibat JE berkisar antara 5-30%. Angka kematian ini lebih
tinggi pada anak, terutama anak berusia kurang dari 10 tahun. Bilapun bertahan
hidup, biasanya penderita seringkali mengalami gejala sisa (sekuele), antara
lain gangguan sistem motorik (motorik halus, kelumpuhan, gerakan abnormal);
gangguan perilaku (agresif, emosi tak terkontrol, gangguan perhatian, depresi);
atau gangguan intelektual (retardasi); atau gangguan fungsi neurologi lain
(gangguan ingatan/memori, epilepsi, kebutaan).
Sampai saat ini belum ada obat
khusus untuk menyembuhkan penyakit ini, hanya dapat mengurangi gejala (mencegah
perburukan kasus). Oleh karena itu, upaya pencegahan sangat penting. JE dapat
dicegah dengan pemberian imunisasi dan menghindari gigitan nyamuk (vektor penular
JE). Adapun
intervensi yang paling utama dalam pencegahan dan pengendalian JE adalah
pengendalian vektor baik secara kimiawi maupun non kimiawi, menjaga kebersihan
lingkungan permukiman dan peternakan bebas dari habitat perkembangbiakan nyamuk
penular JE, penguatan surveilans, dan imunisasi JE pada manusia di samping
vaksinasi hewan (babi, kuda dan unggas). Imunisasi merupakan cara yang paling
efektif untuk mencegah JE pada manusia.
Sumber :
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/japanese-encephalitis